TATA NIAGA ROTAN DI KATINGAN

Authors

  • Septi Dhanik Prastiwi

DOI:

https://doi.org/10.33652/handep.v1i1.14

Keywords:

rotan, tata niaga, fluktuasi harga, dan strategi adaptasi

Abstract

Harga rotan yang tidak stabil merupakan permasalahan yang dihadapi oleh para petani rotan. Mereka harus menerima harga yang telah ditetapkan oleh pasar. Untuk mengetahui bagaimana kehidupan social ekonomi petani rotan di Katingan, maka permasalahan yang akan dibahas yaitu (1) Bagaimana sistem penjualan rotan di desa? (2) Bagaimana strategi adaptasi yang dilakukan oleh petani rotan menghadapi fluktuasi harga rotan? Penelusuran permasalahan ini dilakukan di desa Talingke, Kecamatan Tasik Payawan, Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah. Pengumpulan data dilakukan dilokasi tersebut melalui tiga teknik yaitu studi pustaka, observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa dalam sistem penjualan rotan di desa, terdapat dua hingga tiga pelaku utama yaitu petani rotan, pemberi panjar dan pemilik modal (pengepul). Ketiga pelaku tersebut membentuk hubungan resiprositas dan sekaligus patron-klien. Dominasi pemilik modal dalam menentukan harga dihadapi petani rotan dengan mencari alternative mata pencaharian lain. Strategi yang dilakukan yaitu dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitarnya sebagai sumber penghasilan.

References

Ahimsa Putra, Heddy. 1988. Minawang Hubungan Patron - Klien di Sulawesi Selatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Anonim. 2012. Kerajinan Rotan, diunduh dari www.disparbud.jabarprov.go.id pada 10 September 2017. Erviyani, Makkarennu, Muhammad Alif K.Sahide, Asar Said Mahbub. 2017. Analisis Tata Niaga Rotan di Kelurahan Batu Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng Rappang. Jurnal Hutan dan Masyarakat. Vol. 9 (1), hlm. 1-7.

Havilland, W. A. 1993. Antropologi, jilid 2 (edisi keempat), Jakarta : Penerbit Erlangga.

Hidayat, Asep dkk. 2006. Analisis Pemungutan Rotan pada Dua Kelompok Masyarakat Pemungut. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan. Volume 3 no 2.

Jalan Unggul Rotan Katingan, di unduh dari http://kpshk.org/ pada 15 Maret 2016.

Johanna Maria Rotinsulu, Sosilawaty, dan Yanarita. 2015. Agroforestry Berbasis Rotan Tehadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Barito Selatan. Jurnal Hutan Tropis Volume 4 No. 1.

Kutanagara, Pande Made. 2014. Manusia, Lingkungan dan Sungai : Transformasi Sosial Kehidupan Masyarakat Sempadan Sungai Code. Yogyakarta : Ombak.

Moleong, Lexy J. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Penerbit Remaja Rosdakarya.

Pribadi, Hendra. 2012. Kajian Ekonomi Pengem bangan Usaha Industri Mebel Rotan di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal Hutan Tropis Volume 13 No. 2 September 2012.

Rawing, Duwel. Potensi Produksi dan Pengembangan Rotan serta Permasalahannya di Kabupaten Katingan, diunduh dari storage.jak-stik.ac.id, pada 15 Maret 2016.

Rujiter, J dan F. Agus. Leaflet Agroforestry. April 2004, diunduh dari www. (1), hlm. 1-7.

Ridho Witono, Joko, Himmah Rustiami, Julisasi Tri Hadiah, Danang Wahyu Purnomo. 2013. Panduan Lapangan Pengenalan Jenis Rotan Katingan. Palangka Raya : WWF - Indonesia Program Kalimantan Tengah.

Scott, James. C. 1993. Perlawanan Kaum Tani. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Sumardjani, Lisman. 2011. Studi Rotan di Katingan Kalimantan Tengah.Palangka Raya: Yayasan Rotan Indonesia.

Susilawati. 2014. Kajian Posisi Tawar UD. Mandiri Rotan dalam Struktur Pasar Industri Rotan (Calamus spp) di Wilayah Kabupaten Banjar dan Kota Banjar baru Provinsi Kalimantan Sela tan. Enviroscienteae. Volume 1 no 1.

Wahyuno, Nanang Dwi. 2013. Kajian Produksi dan Pasar Komoditas Rotan di Jawa Timur. Inovasi. Vol. 13 No.3 Hal. 269-274, SeptemberDesember 2013.

Wawancara. Runjan. Desa Talingke, 16 Maret 2016. Wawancara. Santri. Desa Talingke, 17 Maret 2016. Wawancara. Tikno. Desa Talingke, 18 Maret 2016. Wawancara.Yasmi. Desa Talingke, 20 Maret 2016.

Downloads

Published

2017-12-01

Issue

Section

Articles