PERKEMBANGAN TANA TORAJA MENUJU DAERAH WISATA RELIGI 1970AN-2013
DOI:
https://doi.org/10.33652/handep.v7i2.298Keywords:
Tana Toraja, Adat, Wisata ReligiAbstract
Tana toraja merupakan salah satu daerah dengan mayoritas memeluk agama Kristen terbesar di Sulawesi Selatan. Agama Kristen masuk tahun 1913 dan berkembang bersamaan dengan kepercayaan lokal seperti aluk to dolo hingga berkembang seperti sekarang ini. Sejak tahun 1970an Toraja telah berkembang menjadi sebuah daerah wisata etnik atau agro wisata yang banyak dikenal tidak hanya di dalam negeri tetapi hingga mancanegara. Bersamaan dengan hal tersebut, penelitian ini mengkaji bagaimana proses berkembang dan bertahannya Tana Toraja sebagai sebuah daerah wisata etnik menjadi daerah wisata religi ditengah dominasi agama Kristen, adat dan budaya leluhur yang mereka pertahankan serta laksanakan. Untuk mengkaji tulisan ini, penulis menggunakan metode kajian literatur dengan sumber sekunder berupa buku-buku, essai atau jurnal yang berkaitan dengan judul atau tema. Selain itu penggunaan Teknik meta-analisis digunakan dalam menganalisis kembali sumber primer yang di dapatkan sehingga penulis dapat menghubngkan variable yang ada dengan lebih baik. Metode sejarah seperti heuristik, verifikasi sumber dan interpretasi juga digunakan dalam tulisan ini. Dari penelitian ini penulis mendapatkan kesimpulan bahwa kunjungan wisata adat yang mulai berkembang sejak tahun 1970an yang dilakukan oleh para wisatawan tersirat wisata religi. Hal ini berdasarkan dari pariwisata yang ditawarkan oleh Tana Toraja seperti rumah adat, makam dan acara adat. Kunjungan para wisatawan ke Tana Toraja dengan tujuan untuk menikmati wisata adat seperti rumah Tongkonan yang merupakan rumah adat masyaratat Tana Toraja, kuburan batu hingga menghadiri upacara Rambu Solo merupakan bagian dari agama asli atau agama lokal yang dianut oleh masyarakat Tana Toraja. Agama lokal tersebut yaitu, Aluk Todolo. Disamping agama lokal, agama samawi seperti Kristen yang menjadi agama mayoritas juga memberikan pandangan bahwa Taa Toraja sarat akan wisata religi. Hingga pada tahun 2015 telah diresmikan patung Yesus Kristus yang terletak Buntu Bunake dan pembangunan patung tersebut menambah khasanah wisata religi di Tana Toraja.
References
Adams, K. M. (1993). The Discourse of Souls in Tana Toraja (Indonesia): Indigenous Notions and Christian Conceptions. Ethnology, 32(1), 56.
Adams, K. M. (1997). Ethnic Tourism and the Renegotiation of Tradition in Tana Toraja, Sulawesi, Indonesia. 36(4), 311.
Adams, K. M. (2003). The politics of heritage in Tana Toraja Indonesia Interplaying the local and the global. Indonesian and the Malay World, 31, 94.
Adams, K. M. (2006). Art as politics : re-crafting identities, tourism, and power in. Honolulu: University of Hawai‘i Press.
Ahmadin. (2013). Metode Penelitian Sosial. Makassar: Rayhan Intermedia.
Alam, A., & Rahmatullah. (2014). Stategi Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Tana Toraja. Government: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 7.
Aritonang, J. S., & Steenbrink, K. (2008). A History of Christianity in Indonesia. Leiden: Koninklijke Brill.
Bigalke, T. W. (2016). Sejarah Sosial Tana Toraja. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Bigalke, T. W. (2016). Sejarah Sosial Tana Toraja. Yogyakarta: Ombak.
Ds. W. Bieshaar (De Gereformeerde Zendingsbond Na 25 Jaren 1901-1926), Den Haag- S. S. Korthuis.
Gunawan, R., & Merina. (2018). Tradisi Ma’nene Sebagai Warisan Budaya Etnis Toraja. Jurnal Candrasangkala,, 4(2), 107.
Hartanto, J. R. (2006). Wujud Sinkretisme Religi Aluk Todolo dengan Agama Kristen Protestan. Bandung: Univeritas Kristen Maranatha.
Ismail, R. (2019). Ritual Kematian dalam Agama Asli Toraja “Aluk To Dolo” (Studi atas Upacara Kematian Rambu Solok). Religi: Jurnal Studi Agama-agama, 87-106.
Joko Sayono, “Langkah-langkah Heuristik dalam Metode Sejarah di Era Digital”, Jurnal Sejarah dan Budaya, vol. 15, No. 2, 2021, hlm. 371
Jong, E. d. (2013). Making a Living between Crises and Ceremonies in Tana Toraja. Leiden: Brill.
Kobong, T. (2008). Injil dan Tongkonan: inkarnasi, kontekstualisasi, transformasi. Jakarta: BPK Gunung Mulis.
Marcelina Sanda Lebang Pakan, d. (2018). Rumah Adat “Tongkonan” Orang Toraja Kabupaten Tana Toraja Propinsi Sulawesi Selatan. Holistik, XI(22), 2.
Nooy-Palm, H. (1979). The Sa’dan Toraja: A Study of Their Social Life and Religion. Leiden: KITLV.
Nordholt, H. S. (2013). Memikir Ulang Historiografi Indonesia. In H. S. Nordholt, B. Purwanto, & R. Saptari, Perpektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (pp. 1-2). Jakarta: Pustaka Obor dan KITLV-Jakarta.
Pradadimara, D. (2007). Pasar dan Jaringan Perdagangan di Tana Toraja: Perspektif Historis dan Geografis. http://www-archive.cseas.kyoto-u.ac.jp/sulawesi/final_reports2007/article/26-dias.pdf.
Pradana, G. Y. (2019). Sosiologi Parisiwata. Bali: STPBI PRESS.
Pranoto, S. W. (2010). Teori & Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Purwanto, H. (2012). Strategi Mengislamkan Kembali Komunitas Kristen di Lereng Gunung Semeru Kabupaten Malang, Jawa Timur. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta,.
Ricklefs, M. (1993). A History of Modern Indonesia since c. 1300. London: The Macmilan Press.
Robertson, R. (1988). Agama: DalamAnalisa dan Interpretasi Sosiologi. Jakarta: Rajawali Press.
Sandarupa, S. (2015). Glokalisasi Spasio-Temporal dalam Agama Aluk To Dolo oleh Agama Kristen di Toraja. Sosiohumaniora, 17(1), 86.
Schrauwers, A. (2000). Colonial 'Reformation' In The Highlands Of Central Sulawesi, Indonesia, 1892-1995. Canada: University of Toronto Press.
Simanjuntak, B. A., Tanjung, F., & Nasution, R. (2015). Sejarah Pariwisata: Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.
Sofjan, D. (2016). Religion, Public Policy and Social Transformation in Southesat Asia. Globethics.net, Vol 1(Managing Religious Diversity).
Statistik, B. P. (2006). Tana Toraja Dalam Angka 2006. Tana Toraja: BPS Kabupaten Tana Toraja.
Statistik, D. D. (2021). Statistik Indonesia 2021. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Sukmana, W. J. (2021). Metode Penelitian Sejarah. Seri Publikasi Pembelajaran: Metode Penelitian, Vol. 1, No. 2, 1-4.
Suryo, D. (1989). Kota dan Pembaruan Sosio-Kultural dalam Sejarah Indonesia. In Interaksi Antar suku Bangsa dalam Masyarakat Majemuk. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayan.
Tari, E. (2018). Teologi Tongkonan: Berteologi dalam Konteks Budaya Toraja. EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani, 2(2), 100.
Tjahjono, H. K. (2008). Studi Literatur Pengaruh Kadilan Distributif dan Keadilan Prodedurial pada Konsekuensinya dengan Teknik Meta Analisis. Jurnal Psikologi, 35(1), 23-24.
Umi Khumairoh, “Pembentukan Karakter Religius Melaui Wisata Religi”, Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017 Vol. 1 No. 1 2017, Hal. 159-162
Volkman, T. A. (1990). Visions and Revisions: Toraja Culture and the Tourist Gaze. American Ethnologist, 91-100.
Volkman, T. A. (1990). Visions and Revisions: Toraja Culture and the Tourist Gaze. American Ethnologist, 91-110.
Waterson, R. (2009). Path and Rivers: Sa’dan Toraha Society in Transformation. Leiden: KITLV Press.
Yamashita, S. (1994). Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi. Indonesia(58), 70.
Yosmianti, M., & Rahman, P. A. (2019). Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan Objek Wisata Religi Patung Yesus di Tana Toraja. Kajian Sosial dan Budaya, 3.
Yusriadi, d. (2018). Bureaucratic reform of tourism sector public services in Tana Toraja Regency. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 5.
Yusriadi, U. F., Bin-Tahir, S. Z., & Misnawati. (2018). Bureaucratic reform of tourism sector public services in Tana. Earth and Environmental Science (pp. 1-7). CITIES 2018: Spatial Economic Transport Interaction for Sustainable Development.
Gibran, https://zonakata.com/uniknya-gereja-tua-sima-simbuang-berdiri-sejak-tahun-1935/ diakses pada 14 Mei 2022
Petrik Matanasi, https://tirto.id/apa-pun-agama-resminya-orang-toraja-memegang-aluk-tadolo-cQf4 di akses pada 28 April 2022
Olive B in Toraja, minggu 17 maret 2013, Olive’s Journey) Meresapi Makna Injil di 100 Tahun Injil Masuk Toraja. https://obendon.com/2013/03/17/meresapi-makna-injil-di-100-tahun-injil-masuk-toraja di akses pada 28 Maret 2022
https://kbbi.web.id/sinkretisme diakses pada 30 Maret 2022
https://id.wikipedia.org/wiki/Patung_Yesus_Kristus_Memberkati di akses pada 20 September 2021
https://kumparan.com/kumparantravel/mengenal-tongkonan-rumah-adat-toraja-yang-sarat-makna/full diakses pada 31 Maret 2022
Downloads
Published
Issue
Section
License
By submitting the manuscript of papers/articles to Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, the authors are agreed to the following terms stated in copyright and license. Please also read our Publication Ethics dan Screening for Plagiarism.
Copyright
Authors who wish to publish and disseminate their papers with Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, shall agree to the publishing rights set by Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya. Authors understand that they shall assign publication right to Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya as part of the process upon acceptance for publication. The authors agreed that they will transfer certain copyrights to Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya (authors must transfer the copyright by using the downloaded form HERE). Consecutively, authors still retain the right to use and share their own published articles without written permission from Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, as long as attributed properly, that the articles are initially published at Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya.
Authors granted Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya these following rights; (1) the right to publish and provide the manuscripts in all forms and media for publication and dissemination, (2) the authority to enforce the rights in the manuscript, for example in the case of plagiarism or copyright infringement.
License
Works in Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya licensed under Creative Commons Attribution license. Users are free to copy and redistribute the material in any medium or format, remix, transform, and build upon the material under these terms; users must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. Users may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses users or their usage.